Langkah-langkah Praktis Menyusun Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Setelah skripsi selesai dan sidang dilalui, biasanya muncul permintaan tambahan dari kampus: bikin jurnal ilmiah dari skripsi. Awalnya mungkin bikin pusing, apalagi belum pernah menyusun jurnal sebelumnya. Tapi tenang, prosesnya nggak sesulit kelihatannya kok, asal tahu alurnya.
1. Pahami Perbedaan Skripsi dan Jurnal
Skripsi itu panjang, lengkap, dan mendetail. Sedangkan jurnal ilmiah punya gaya penulisan yang ringkas, padat, dan langsung ke inti. Di jurnal, nggak perlu bahas teori panjang lebar atau review pustaka berjilid-jilid. Fokus utama cuma ada di tujuan penelitian, metode, hasil, dan pembahasan.
2. Pilih Bagian Skripsi yang Paling Relevan
Nggak semua isi skripsi harus masuk ke jurnal. Cukup ambil bagian yang paling penting dan inti dari penelitian. Umumnya, bab 1 (latar belakang), bab 3 (metode), bab 4 (hasil), dan bab 5 (pembahasan) adalah bahan utama untuk disusun ulang jadi jurnal.
3. Buat Kerangka Tulisan Format Jurnal
Sebelum mulai menulis, bikin dulu kerangka artikel ilmiah. Format umum jurnal itu biasanya terdiri dari:
- Judul (maksimal 14 kata, singkat dan to the point)
- Abstrak (sekitar 150-250 kata, isi ringkasan penelitian)
- Kata kunci (biasanya 3-5 istilah utama)
- Pendahuluan
- Metode Penelitian
- Hasil dan Pembahasan
- Kesimpulan (tanpa perlu penutup di akhir artikel)
- Daftar Pustaka
4. Tulis Abstrak dengan Ringkas dan Jelas
Abstrak itu kayak trailer film. Harus bisa menggambarkan isi penelitian secara cepat tapi menarik. Isinya mencakup latar belakang singkat, tujuan penelitian, metode yang dipakai, hasil utama, dan sedikit kesimpulan. Tulis dalam satu paragraf tanpa subjudul.
5. Ringkas Pendahuluan, Langsung ke Masalah
Kalau di skripsi bisa curhat panjang soal latar belakang, di jurnal nggak begitu. Langsung aja jelaskan isu atau masalah yang diteliti, kenapa penting dibahas, dan tujuan penelitiannya apa. Jangan lupa tambahkan beberapa referensi jurnal sebagai penguat argumen.
6. Sajikan Metode Penelitian Secara Padat
Di bagian metode, cukup jelaskan desain penelitian, teknik pengambilan data, lokasi, dan alat yang digunakan. Nggak perlu dijabarkan selengkap skripsi, cukup info yang membuat pembaca bisa memahami alur penelitiannya.
7. Tampilkan Hasil dan Bahas Secara Efisien
Bagian ini yang paling penting. Gunakan tabel atau grafik kalau perlu, agar hasil bisa langsung terbaca. Kemudian, langsung sambungkan dengan pembahasan. Bahas kenapa hasil seperti itu, cocok nggak dengan teori sebelumnya, dan apa maknanya untuk bidang ilmu tersebut.
8. Gunakan Referensi Jurnal Terbaru
Salah satu syarat jurnal bisa terbit adalah punya rujukan yang up to date. Gantilah referensi lama atau dari blog dengan referensi dari jurnal nasional atau internasional, terutama yang terindeks SINTA atau Scopus. Bisa cari di Google Scholar, Garuda, atau portal lainnya.
9. Cek Gaya Penulisan Sesuai Template Jurnal Tujuan
Sebelum submit ke jurnal, wajib baca dulu panduan penulisan dari jurnal tersebut. Biasanya tiap jurnal punya gaya sendiri, baik dari ukuran font, cara penulisan daftar pustaka, hingga cara menyusun tabel dan gambar. Penyesuaian struktur ini penting biar naskah nggak langsung ditolak editor.
10. Konsultasi ke Dosen Pembimbing atau Teman yang Pernah Publikasi
Kalau masih bingung, minta masukan ke dosen pembimbing atau teman yang sudah pernah publikasi. Bisa juga minta revisi naskah supaya lebih rapi dan sesuai standar jurnal. Diskusi seperti ini bisa bantu banget menemukan kekurangan yang sebelumnya nggak terlihat.
11. Cek Plagiarisme Sebelum Kirim
Jurnal ilmiah harus orisinal. Jangan sampai naskah yang dikirim malah ketahuan menjiplak. Gunakan tools seperti Turnitin atau Plagiarism Checker sebelum submit. Umumnya batas toleransi plagiarisme adalah di bawah 20%.
12. Submit ke Jurnal yang Tepat
Terakhir, pilih jurnal ilmiah yang sesuai dengan topik. Bisa jurnal kampus, jurnal nasional terakreditasi, atau jurnal online open access. Pastikan jurnal tersebut terverifikasi dan punya ISSN. Jangan sembarangan pilih, karena banyak juga jurnal predator yang asal terbit tapi kualitasnya diragukan.
Kalau perlu, cari jurnal yang punya reputasi baik di bidang studi yang sesuai. Cek juga apakah jurnal itu masuk dalam indeks SINTA atau DOAJ, agar publikasinya punya nilai lebih secara akademik.

