Strategi Efektif Menulis Abstrak dan Pendahuluan Jurnal dari Skripsi

Setelah skripsi selesai disusun dan dipresentasikan, biasanya muncul dorongan untuk mempublikasikannya ke jurnal ilmiah. Tapi proses mengubah skripsi menjadi artikel jurnal enggak bisa dilakukan dengan cara sekadar copy-paste. Salah satu bagian paling penting dan sering bikin bingung adalah saat menulis abstrak dan pendahuluan. Dua bagian ini jadi wajah utama artikel ilmiah, jadi penting banget dibuat semenarik dan sejelas mungkin.
Kenapa Abstrak dan Pendahuluan Penting Banget?
Abstrak itu seperti trailer film. Ringkas, padat, tapi harus bisa bikin pembaca tertarik buat lanjut baca sampai habis. Biasanya terdiri dari 150-250 kata. Di sinilah seluruh inti penelitian dirangkum: mulai dari latar belakang, tujuan, metode, sampai hasil penelitian. Jadi meskipun pendek, tetap harus lengkap dan informatif.
Sementara itu, pendahuluan adalah bagian pembuka yang menjelaskan kenapa topik penelitian itu penting. Di sinilah bisa dijabarkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan kontribusi ilmiah dari tulisan. Kalau dibuat dengan baik, pembaca langsung paham arah tulisan dan tertarik untuk lanjut baca.
Langkah-langkah Menulis Abstrak dari Skripsi
Biar nggak bingung, berikut beberapa strategi efektif dalam menulis abstrak dari skripsi:
1. Buka Kembali Bab I sampai Bab V
Abstrak adalah hasil ringkasan dari semua bab. Jadi, coba buka lagi mulai dari latar belakang (Bab I), metode (Bab III), dan hasil penelitian (Bab IV). Cukup ambil intinya aja, jangan sampai terlalu detail.
2. Gunakan Struktur IMRAD
IMRAD itu singkatan dari Introduction, Methods, Results, and Discussion. Format ini paling umum dipakai dalam jurnal. Meski singkat, pastikan semua elemen itu masuk. Tambahkan juga keyword yang relevan supaya artikel mudah ditemukan secara online.
3. Hindari Kutipan atau Referensi
Abstrak bukan tempat buat ngutip teori. Fokus aja ke data penelitian sendiri. Yang dibahas cukup hasil dan kontribusi ilmiah yang didapat dari penelitian yang dilakukan.
4. Tulis dalam Satu Paragraf
Umumnya, abstrak ditulis dalam satu paragraf tanpa subjudul. Jadi alur bacanya harus rapi dan enak. Jangan lupa, hindari bahasa yang terlalu teknis kalau bisa dijelaskan secara sederhana.
5. Periksa Grammar dan Jumlah Kata
Kalau artikel ditulis dalam bahasa Inggris, wajib banget periksa grammar. Jumlah katanya juga harus sesuai batasan dari jurnal tujuan, biasanya antara 150 sampai 250 kata. Terlalu panjang atau terlalu pendek bisa jadi masalah saat proses review.
Strategi Menulis Pendahuluan Jurnal dari Skripsi
Pendahuluan adalah tempat menyampaikan kenapa topik ini penting untuk diteliti. Meskipun isinya mirip dengan Bab I skripsi, tetap harus ditulis ulang biar lebih ringkas dan fokus.
1. Sederhanakan Latar Belakang
Latar belakang di skripsi biasanya panjang. Tapi di jurnal, cukup 2–3 paragraf yang langsung to the point. Misalnya, cukup sebutkan fenomena atau data terbaru yang relevan dengan topik, lalu kaitkan dengan pentingnya dilakukan penelitian.
2. Fokus ke Rumusan Masalah
Rumusan masalah di jurnal bisa ditulis dalam bentuk pertanyaan atau langsung sebagai gap riset. Yang penting, pembaca paham apa masalah yang sedang dicari jawabannya dalam penelitian ini.
3. Tambahkan Tinjauan Literatur Secara Ringkas
Tinjauan pustaka di bagian pendahuluan cukup satu paragraf saja. Sebutkan beberapa penelitian terdahulu, lalu tunjukkan di mana letak celahnya (gap). Di sinilah bisa menunjukkan kontribusi ilmiah dari penelitian.
4. Tulis Tujuan Penelitian dengan Jelas
Akhiri pendahuluan dengan tujuan penelitian. Bisa ditulis langsung: “Penelitian ini bertujuan untuk…”. Jangan lupa gunakan kalimat aktif dan jelas, supaya pembaca langsung tahu apa yang mau dicapai.
5. Jangan Tulis Terlalu Panjang
Pendahuluan dalam jurnal biasanya hanya 10–15% dari total artikel. Jadi, kalau artikel jurnal maksimal 5000 kata, cukup 500–700 kata untuk pendahuluan. Pastikan tiap paragraf punya fungsi, jangan mengulang-ulang informasi.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Menulis abstrak dan pendahuluan memang butuh latihan, tapi bisa dilatih pelan-pelan. Beberapa hal penting yang sebaiknya diperhatikan antara lain:
- Hindari bahasa yang terlalu kaku atau bertele-tele
- Gunakan istilah ilmiah yang sesuai bidang keilmuan
- Sesuaikan gaya penulisan dengan template jurnal tujuan
- Gunakan referensi terbaru untuk mendukung latar belakang
- Cek plagiarisme, walaupun artikel berasal dari skripsi sendiri
Kalau memungkinkan, minta feedback dari dosen pembimbing atau teman seangkatan yang sudah lebih dulu publikasi. Kadang sudut pandang orang lain bisa kasih masukan yang nggak terpikirkan sebelumnya.
Mengoptimalkan Penggunaan Kata Kunci
Supaya artikel jurnal lebih mudah ditemukan secara daring, jangan lupa sisipkan kata kunci yang relevan. Gunakan istilah yang umum dipakai di bidang tersebut, seperti: metode penelitian, hasil analisis, kontribusi teoritis, aplikasi praktis, dan sebagainya. Penggunaan kata kunci ini penting juga buat urusan indexing jurnal dan SEO akademik.
Latihan dan Konsistensi adalah Kunci
Menulis artikel jurnal memang beda dengan skripsi. Tapi kalau sudah tahu struktur dan cara menyederhanakannya, prosesnya jadi jauh lebih mudah. Biasakan membaca artikel ilmiah supaya tahu gaya bahasanya seperti apa. Dengan sering latihan, ke depannya proses publikasi bisa jadi rutinitas yang menyenangkan.

