Skala Likert dan Metode Pengukuran dalam Penelitian Bidang Teknik Sipil

Dalam penelitian bidang teknik sipil, sering sekali dibutuhkan alat ukur yang bisa
menggambarkan pendapat, sikap, atau persepsi responden. Salah satu metode yang
paling banyak digunakan adalah skala Likert.
Selain skala Likert, masih ada metode pengukuran lain seperti skala ordinal, skala interval,
maupun skala rasio yang juga penting dipahami. Artikel ini akan membahas skala Likert
dan metode pengukuran dengan bahasa santai agar lebih mudah dicerna.
Apa Itu Skala Likert
Skala Likert adalah metode pengukuran yang dipakai untuk menilai sikap atau pendapat
seseorang terhadap suatu fenomena. Contoh sederhananya, ketika responden diminta
menilai pernyataan “Kualitas proyek konstruksi di kota X sudah baik”, pilihan jawabannya
bisa berupa:
- Sangat setuju
- Setuju
- Ragu-ragu
- Tidak setuju
- Sangat tidak setuju
Dari jawaban tersebut, peneliti bisa memberi nilai angka, misalnya 5 untuk “sangat setuju”
sampai 1 untuk “sangat tidak setuju”. Hasil angka ini nantinya dipakai dalam analisis
statistik. Dalam penelitian teknik sipil, skala Likert sering dipakai untuk mengukur
kepuasan pengguna jasa konstruksi, kinerja kontraktor, maupun kualitas proyek.
Kenapa Skala Likert Banyak Dipakai
Ada beberapa alasan kenapa skala Likert populer di kalangan peneliti:
- Mudah dipahami oleh responden karena pilihan jawabannya jelas.
- Mudah dianalisis dengan software statistik seperti SPSS.
- Bisa memberikan gambaran yang lebih detail dibanding jawaban ya/tidak.
- Fleksibel, bisa dipakai di bidang sosial maupun teknik.
Di bidang teknik sipil, skala ini membantu peneliti menilai faktor non-teknis yang
sering kali sulit diukur, seperti kepuasan, kepercayaan, atau persepsi kualitas pekerjaan.
Metode Pengukuran Lain yang Sering Digunakan
Selain skala Likert, ada beberapa metode pengukuran lain yang sering dipakai dalam
penelitian teknik sipil, khususnya ketika membuat kuesioner untuk menilai kinerja proyek
atau kualitas kontraktor.
1. Skala Guttman
Skala ini lebih sederhana daripada skala Likert. Responden hanya diberi pilihan
jawaban yang tegas seperti “Ya – Tidak” atau “Pernah – Tidak Pernah”.
Cocok digunakan jika peneliti ingin hasil yang jelas tanpa banyak interpretasi.
2. Skala Semantic Differential
Skala ini berbentuk garis kontinum dengan dua kutub yang berlawanan.
Misalnya “Kualitas konstruksi” diukur dengan skala dari “Buruk” di satu sisi
sampai “Sangat Baik” di sisi lainnya. Responden tinggal memilih titik di antara dua kutub.
Hasilnya bisa menunjukkan sejauh mana persepsi responden.
3. Rating Scale
Rating scale memberikan angka pada jawaban responden. Misalnya, responden
diminta memberi nilai dari 1 sampai 10 untuk menilai ketepatan waktu proyek.
Data yang diperoleh berupa angka, kemudian bisa diinterpretasikan dalam
bentuk kualitatif. Metode ini fleksibel dan sering dipakai untuk mengukur kinerja.
Pentingnya Memahami Skala Pengukuran
Dalam penelitian teknik sipil, pemilihan skala pengukuran memengaruhi kualitas data.
Misalnya, untuk menilai kinerja kontraktor, peneliti perlu data yang tidak hanya
deskriptif tapi juga bisa dianalisis lebih lanjut. Dengan skala Likert, data bisa
diubah menjadi angka dan dianalisis korelasi atau regresinya.
Sementara skala Guttman lebih cocok dipakai kalau pertanyaan hanya butuh
jawaban pasti.
Contoh Penerapan di Bidang Teknik Sipil
Berikut beberapa contoh penerapan skala Likert dan metode pengukuran lain dalam penelitian teknik sipil:
- Penilaian kualitas proyek: responden menilai kualitas konstruksi dari sangat buruk hingga sangat baik.
- Kinerja kontraktor: dinilai dengan skala Likert dari sangat tidak puas sampai sangat puas.
- Ketepatan waktu proyek: bisa menggunakan rating scale dengan angka 1 sampai 10.
- Ketersediaan peralatan: dapat diukur dengan skala Guttman, cukup jawab “ada” atau “tidak ada”.
- Persepsi masyarakat terhadap pembangunan: bisa menggunakan semantic differential, misalnya “merugikan” sampai “menguntungkan”.
Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Setelah menyusun kuesioner dengan skala pengukuran, peneliti harus memastikan
instrumen penelitian valid dan reliabel.
– Validitas artinya pertanyaan benar-benar mengukur apa yang ingin diukur.
– Reliabilitas berarti hasilnya konsisten jika diuji berkali-kali.
Biasanya uji validitas dan reliabilitas dilakukan menggunakan software statistik
seperti SPSS. Kalau kuesioner sudah valid dan reliabel, data yang diperoleh
bisa dipercaya untuk dianalisis lebih lanjut.
Misalnya, penelitian tentang hubungan kualifikasi kontraktor dengan kualitas
pekerjaan proyek konstruksi di Banten menggunakan skala Likert yang diuji dengan SPSS.
Skala Likert dalam Analisis Data
Data dari skala Likert biasanya berupa angka 1 sampai 5.
Data ini kemudian bisa dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi,
atau uji regresi. Misalnya, peneliti ingin tahu apakah ada hubungan antara
pengalaman kontraktor dengan kualitas pekerjaan.
Hasil analisis bisa menunjukkan apakah hubungan itu kuat, sedang, atau lemah.
Dengan bantuan SPSS, nilai korelasi bisa dihitung dengan cepat.
Dalam salah satu penelitian, hasil korelasi menunjukkan angka 0,954 yang artinya
hubungan sangat kuat antara kualifikasi kontraktor dengan kualitas proyek.
Tanpa skala pengukuran yang tepat, analisis seperti ini tidak mungkin dilakukan.
Tips Menggunakan Skala Likert
Supaya penggunaan skala Likert efektif, ada beberapa tips sederhana yang bisa diterapkan:
- Pertanyaan harus jelas dan tidak membingungkan.
- Gunakan jumlah skala yang konsisten, misalnya 1 sampai 5.
- Berikan instruksi singkat sebelum responden menjawab.
- Jangan membuat pertanyaan yang bias atau menggiring jawaban.
Dengan tips ini, data yang dikumpulkan akan lebih akurat dan bisa dipakai untuk
penelitian yang serius.

