Mengapa Ambergris Dilarang di Beberapa Negara Meski Sangat Mahal

Bayangin lagi jalan santai di pinggir pantai, terus nemu benda keras, agak lengket, warnanya abu-abu kecokelatan, dan baunya aneh tapi khas. Bisa jadi itu bukan sekadar sampah laut biasa, tapi ambergris alias “muntah ikan paus” yang harganya bisa bikin melongo. Tapi anehnya, benda langka ini justru dilarang di beberapa negara. Padahal nilainya bisa ratusan juta rupiah per kilogram.
Apa Sih Sebenarnya Ambergris Itu?
Ambergris adalah zat alami yang terbentuk di dalam perut paus sperma. Paus jenis ini doyan banget makan cumi-cumi, dan dari sisa-sisa yang susah dicerna kayak paruh cumi, muncul zat pelindung di usus yang lama-lama jadi gumpalan lilin. Nah, gumpalan inilah yang nantinya keluar dari tubuh si paus, entah lewat muntah atau kotoran, dan disebut ambergris.
Kalau baru keluar, bentuknya jelek, bau amis dan menjijikkan. Tapi setelah terapung di laut selama bertahun-tahun, zat ini bisa berubah jadi benda berbau harum dan bernilai tinggi. Karena proses alaminya itu, ambergris sering disebut juga sebagai “emas terapung”.
Dikenal Sebagai Bahan Parfum Mewah
Ambergris bukan cuma unik, tapi juga punya fungsi luar biasa dalam dunia parfum. Zat ini bisa bertindak sebagai fiksatif alami yang bikin aroma parfum lebih awet. Nggak heran kalau banyak rumah mode terkenal di Eropa dan Timur Tengah yang rela bayar mahal untuk mendapatkannya.
Beberapa parfum kelas atas bahkan mencantumkan ambergris sebagai salah satu rahasia keharuman mereka. Wajar aja kalau kemudian banyak orang yang tergoda untuk berburu benda ini karena potensi keuntungannya besar.
Lalu, Kenapa Justru Dilarang?
Ini nih bagian menariknya. Meskipun ambergris terbentuk secara alami dan biasanya ditemukan setelah terapung di laut, tetap aja ada aturan yang ngebatasi bahkan melarang kepemilikan dan perdagangannya di beberapa negara.
Alasannya simpel: perlindungan terhadap paus sperma sebagai spesies yang dilindungi. Paus sperma masuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Australia, punya hukum ketat yang melarang segala bentuk pemanfaatan produk yang berasal dari hewan yang terancam punah—termasuk ambergris.
Meski ambergris ditemukan dalam keadaan sudah terpisah dari paus dan tidak melibatkan pembunuhan langsung, hukum di negara-negara tersebut tetap menganggapnya sebagai bagian dari satwa yang dilindungi. Makanya, perdagangan ambergris bisa dianggap melanggar hukum perlindungan hewan laut.
Negara Mana Saja yang Melarang Ambergris?
Beberapa negara yang tercatat melarang kepemilikan dan perdagangan ambergris antara lain:
- Amerika Serikat – dilarang secara federal berdasarkan Marine Mammal Protection Act.
- Australia – ambergris termasuk bagian dari satwa yang dilindungi oleh hukum konservasi.
- India – penemuan ambergris bisa berujung penahanan karena paus sperma dilindungi di bawah Wildlife Protection Act.
- Inggris – masih ada wilayah abu-abu dalam hukum, tapi tetap diawasi ketat.
Di beberapa negara lain seperti Indonesia, hukum terkait ambergris belum terlalu spesifik. Tapi tetap perlu berhati-hati, karena jika berhubungan dengan ekspor atau melibatkan hukum internasional, masalah bisa jadi panjang.
Perburuan Ilegal dan Ancaman terhadap Paus
Larangan terhadap ambergris juga bertujuan mencegah perburuan ilegal paus sperma. Meskipun secara teknis ambergris bisa ditemukan terapung di laut atau terdampar di pantai, tetap ada kekhawatiran orang-orang tertentu bakal nekat memburu paus demi dapat zat ini.
Paus sperma sendiri sudah lama menjadi target dalam industri perburuan laut, terutama karena minyaknya yang juga pernah digunakan untuk bahan bakar lampu dan pelumas mesin di zaman dulu. Dengan adanya potensi nilai ekonomi dari ambergris, kekhawatiran perburuan ilegal makin besar. Inilah yang jadi salah satu alasan kuat kenapa perdagangannya ditekan atau dilarang.
Bagaimana Kalau Menemukan Ambergris?
Kalau lagi jalan-jalan di pantai terus nemu benda mencurigakan yang mirip dengan deskripsi ambergris—bau manis, lilin keras, terapung di laut—jangan buru-buru senang dulu. Di beberapa negara, memiliki benda itu bisa jadi masalah hukum.
Perlu diuji di laboratorium untuk memastikan apakah itu benar-benar ambergris. Selain itu, sebaiknya juga cek aturan lokal terkait perlindungan satwa laut. Soalnya, kalau terbukti menyimpan atau menjual ambergris secara ilegal, konsekuensinya bisa berat, bahkan sampai denda atau penjara.
Benda Laut yang Disangka Ambergris
Banyak orang keliru mengira benda yang ditemukan di laut sebagai ambergris. Kadang hanya lilin industri, resin pohon, atau limbah minyak. Bahkan ada kasus di mana batuan ringan dan busa plastik ikut disangka sebagai muntah paus.
Perbedaan utama ambergris terletak pada baunya yang khas—campuran manis, laut, dan hewan. Selain itu, teksturnya agak lilin dan bisa meleleh jika dipanaskan. Karena bentuknya aneh dan tidak semua orang tahu cara membedakannya, penting untuk berhati-hati sebelum mengklaim menemukan benda bernilai jutaan rupiah.
Pasar Gelap Ambergris Masih Ada
Meskipun dilarang di beberapa negara, kenyataannya pasar gelap ambergris tetap eksis. Banyak yang menjualnya secara diam-diam ke pembuat parfum independen atau lewat jalur tidak resmi. Ada juga yang menyelundupkannya ke negara-negara yang belum punya aturan ketat.
Fenomena ini menandakan betapa tingginya permintaan akan zat alami dari laut tersebut. Bahkan, beberapa orang mengklaim sudah berhasil menjual ambergris ke luar negeri dengan cara “disamarkan” sebagai bahan aromaterapi atau bahan lilin. Namun tentu saja, risiko dari aksi seperti ini tidak kecil.

