Rahasia Dosen Meningkatkan Peringkat SINTA yang Jarang Dibahas Publik

SINTA itu ibarat “papan skor” dunia akademik di Indonesia. Banyak yang menganggapnya rumit, padahal kalau dibongkar satu per satu, ada trik yang bisa digunakan dosen untuk meningkatkan peringkat SINTA secara konsisten. Menariknya, beberapa strategi ini jarang sekali dibicarakan secara terbuka. Biasanya cuma dibahas di ruang dosen, grup WhatsApp kecil, atau obrolan santai setelah rapat.
Artikel ini bakal mengulas secara santai bagaimana dosen bisa meningkatkan skor SINTA melalui cara-cara yang mudah dipahami. Mulai dari publikasi jurnal, sitasi, kolaborasi penelitian, sampai pemanfaatan tools digital seperti Google Scholar, OJS, dan database jurnal bereputasi. Semua dibahas dengan gaya ringan biar enak diikuti.
1. Konsisten Publikasi, Tapi Jangan Asal Menembak Jurnal
Publikasi adalah tulang punggung penilaian di SINTA. Tapi banyak yang masih mengira bahwa semakin banyak publikasi, otomatis makin tinggi skornya. Padahal kualitas publikasi punya peran besar. Misalnya jurnal terakreditasi SINTA 2 bakal memberikan poin yang jauh lebih tinggi dibanding SINTA 5 atau 6.
Yang jarang dibicarakan adalah soal strategi memilih jurnal. Dosen yang sudah terbiasa biasanya punya daftar “jurnal ramah” yang proses review-nya cepat, editor komunikatif, dan peluang diterimanya lebih besar. Bukan jurnal abal-abal, tapi jurnal yang manajemennya rapi dan bisa diajak bekerja sama dengan baik.
Hal lain yang sering dilupakan adalah kecocokan topik. Editor jurnal bisa mendeteksi dari awal apakah artikel sesuai ruang lingkup jurnal atau tidak. Makin cocok topiknya, makin cepat prosesnya. Itulah kenapa penting membaca fokus dan ruang lingkup jurnal sebelum submit.
2. Optimasi Google Scholar Itu Wajib Kalau Mau Sitasi Naik
Banyak yang fokus publikasi, tapi lupa mengoptimalkan profil Google Scholar. Padahal Google Scholar adalah salah satu sumber sitasi terbesar, dan sitasi inilah yang jadi penentu kuat dalam penilaian SINTA.
Beberapa hal yang biasanya dilakukan dosen-dosen produktif:
- Merapikan profil Google Scholar, termasuk nama, afiliasi, dan email institusi
- Menautkan artikel yang belum terbaca otomatis oleh sistem
- Mengunggah preprint atau versi draft artikel di platform legal seperti institutional repository
- Rajin membagikan link artikel di grup akademik, media sosial, atau forum diskusi penelitian
Hal sederhana seperti memastikan nama konsisten di semua publikasi bisa meningkatkan akurasi penarikan sitasi. Misalnya tetap menggunakan format nama yang sama di setiap artikel untuk menghindari duplikasi atau artikel tidak terbaca sistem.
3. Kolaborasi Penelitian, Cara Cepat Meningkatkan Publikasi
Banyak dosen senior terbiasa meningkatkan publikasi dengan cara kolaborasi. Entah itu kolaborasi lintas kampus, lintas prodi, atau lintas negara. Kolaborasi membuat beban kerja penelitian lebih ringan dan ide lebih kaya. Dalam banyak kasus, satu penelitian bisa dikembangkan menjadi dua sampai tiga artikel berbeda tanpa melanggar etika akademik.
Kolaborasi juga membantu memperluas jaringan sitasi. Artikel yang ditulis bersama rekan dari kampus lain cenderung lebih mudah disitasi oleh mahasiswa atau dosen di institusi tersebut. Dampaknya ke skor SINTA jadi sangat terasa.
Selain itu, kolaborasi juga membuka peluang publikasi di jurnal bereputasi lebih tinggi seperti Scopus atau WoS. Walaupun publikasi internasional tidak langsung memengaruhi peringkat SINTA secara linear, tetapi sitasi dari artikel tersebut tetap masuk hitungan.
4. Mengikuti Template Jurnal, Langkah Kecil tapi Efeknya Besar
Salah satu alasan artikel tertolak yang jarang diakui penulis adalah karena template tidak diikuti. Editor jurnal sangat memperhatikan format: mulai dari struktur artikel, gaya sitasi, hingga penyusunan gambar dan tabel. Menyesuaikan artikel dengan template bisa meningkatkan peluang diterima secara signifikan.
Dosen yang sudah berpengalaman biasanya membuat template pribadi yang bisa disesuaikan untuk jurnal mana pun. Dengan cara ini, proses penyesuaian lebih cepat dan kemungkinan revisi minor lebih tinggi.
5. Aktif Mengikuti Seminar dan Konferensi untuk Memperkuat Jejak Publikasi
Seminar nasional dan internasional sering menjadi gerbang awal publikasi. Banyak prosiding konferensi sudah terindeks SINTA atau memiliki peluang terbit ke jurnal kerja sama. Dosen yang aktif ikut konferensi biasanya punya alur publikasi yang lebih lancar.
Selain itu, seminar membuka peluang networking yang mungkin tidak didapatkan lewat komunikasi daring. Bertemu langsung dengan sesama peneliti bisa memunculkan ide baru, membuka peluang kolaborasi, bahkan mempercepat proses review karena sudah saling mengenal dengan editor atau panitia konferensi.
6. Memanfaatkan OJS dan Repositori Institusi untuk Meningkatkan Visibilitas
Artikel yang tersimpan di repositori kampus atau platform OJS punya peluang lebih besar untuk ditemukan peneliti lain. Semakin banyak artikel ditemukan, semakin besar peluang disitasi. Itulah kenapa dosen yang produktif biasanya selalu mengunggah preprint, laporan penelitian, atau bahan seminar ke repositori resmi.
Repositori dan OJS juga memudahkan mahasiswa menemukan artikel dosennya sendiri. Situasi ini sering menjadi sumber sitasi internal yang sangat membantu peringkat SINTA.
7. Mengambil Hibah Penelitian untuk Meningkatkan Produktivitas Publikasi
Hibah penelitian sering menjadi jalan pintas peningkatan publikasi. Hibah dari Kemendikbud, BRIN, atau kampus biasanya mensyaratkan publikasi di jurnal terakreditasi. Dengan adanya dana, proses penelitian bisa berjalan lebih cepat, termasuk biaya publikasi di jurnal yang menerapkan APC (Article Processing Charge).
Dosen yang terbiasa mengikuti hibah biasanya memiliki rekam jejak penelitian yang konsisten, sehingga peluang lolos hibah berikutnya makin besar. Dampaknya ke SINTA jelas terlihat: publikasi meningkat, sitasi bertambah, dan peringkat institusi ikut naik.
8. Menggunakan Tools Penunjang Penelitian untuk Mempercepat Proses Penulisan
Di era digital, dosen tidak lagi harus melakukan semuanya secara manual. Banyak tools yang bisa membantu proses penelitian dan penulisan artikel, seperti:
- Mendeley atau Zotero untuk manajemen referensi
- Grammarly atau LanguageTool untuk perbaikan bahasa
- Google Trends untuk analisis topik
- Turnitin untuk pengecekan plagiasi
- Publish or Perish untuk analisis sitasi
Tools seperti ini membantu mempercepat proses sehingga artikel bisa selesai lebih cepat dan peluang publikasi juga meningkat.
9. Fokus pada Riset yang Relevan dan Banyak Dicari Pembaca
Judul riset yang relevan dan sedang tren biasanya lebih mudah menarik perhatian peneliti lain. Topik yang dibutuhkan masyarakat, dunia industri, atau lembaga pemerintah cenderung lebih cepat disitasi. Misalnya riset tentang literasi digital, teknologi pembelajaran, pertanian berkelanjutan, atau kebijakan publik.
Selain relevansi, gaya penyajian data juga memengaruhi. Artikel yang rapi, jelas, dan mudah dibaca lebih disukai peneliti lain dan berpotensi tinggi disitasi. Semakin sering disitasi, semakin tinggi skor SINTA.

