Penyebab Artikel Ditolak Jurnal Bereputasi

Publikasi ilmiah sekarang sudah jadi bagian penting dalam dunia akademik. Mulai dari kenaikan pangkat, penilaian kinerja, sampai reputasi lembaga, semuanya sangat dekat dengan kata jurnal. Tapi kenyataannya, banyak dosen yang masih mengalami kesulitan buat menembus jurnal bereputasi, baik itu jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional.
Meskipun sudah menyiapkan artikel berhari-hari, begadang demi revisi, dan melakukan riset kecil-kecilan, tetap saja tak jarang artikel berakhir dengan email singkat yang isinya “we regret to inform you”. Rasanya tentu campur antara sedih, kecewa, dan bingung harus mulai dari mana lagi.
Kalau dilihat lebih dalam, sebenarnya ada beberapa alasan umum kenapa hal itu bisa terjadi. Bukan hanya soal kualitas tulisan, tapi juga menyangkut teknis, pemahaman format, hingga pola kerja akademik yang kadang kurang tepat. Berikut ini beberapa penyebab yang sering bikin dosen gagal publikasi di jurnal bereputasi, lengkap dengan penjelasan yang mudah dipahami.
1. Topik Penelitian Tidak Relevan atau Sudah Terlalu Umum
Banyak artikel ditolak karena topik yang diangkat sudah sangat sering dibahas. Misalnya penelitian yang sifatnya terlalu permukaan, atau tidak membawa sudut pandang baru. Jurnal bereputasi biasanya mencari kebaruan atau istilah kerennya novelty.
Walaupun topiknya bagus, tetapi kalau tidak ada nilai tambah atau kontribusi ilmiah yang jelas, editor bisa langsung “mengembalikan” artikel tanpa melalui proses review. Itulah pentingnya melakukan literature review yang kuat supaya riset punya posisi jelas di antara penelitian sebelumnya.
2. Metodologi Kurang Kuat dan Tidak Terstruktur
Metodologi adalah tulang punggung sebuah artikel penelitian. Kalau bagian ini rapuh, artikel otomatis kehilangan nilai akademiknya. Banyak dosen yang sebenarnya punya data bagus, tapi penyajian dan penjelasan langkah-langkah penelitiannya kurang rapi dan membingungkan.
Kesalahan umum di bagian metodologi antara lain:
- Penjelasan metode terlalu singkat
- Instrumen penelitian tidak dijelaskan
- Teknik analisis data tidak jelas
- Prosedur pengambilan sampel tidak konsisten
Jurnal bereputasi biasanya sangat ketat pada bagian ini karena metodologi menentukan kualitas akhir riset.
3. Format Penulisan Tidak Sesuai Template Jurnal
Ini penyebab yang jauh lebih sering terjadi daripada yang dibayangkan. Banyak dosen yang fokus menyempurnakan isi tulisan, tetapi lupa mengikuti template jurnal yang sudah disediakan. Padahal editor jurnal sangat sensitif terhadap format, struktur, sistem sitasi, dan gaya penulisan artikel.
Beberapa kesalahan format yang sering terjadi:
- Penggunaan referensi tidak mengikuti gaya penulisan (APA, IEEE, Chicago, dll)
- Bagian abstrak terlalu panjang atau tidak memenuhi syarat
- Struktur artikel tidak sesuai template jurnal target
- Pengelompokan tabel dan gambar tidak konsisten
Meskipun isinya bagus, kalau format tidak rapi, editor bisa langsung menolak artikel tanpa review.
4. Referensi Tidak Mutakhir dan Terlalu Lama
Di banyak bidang akademik, referensi yang dipakai sebaiknya berasal dari lima tahun terakhir. Jurnal bereputasi ingin memastikan bahwa penelitian yang dilakukan terhubung dengan perkembangan ilmiah terbaru.
Namun sering ditemukan artikel yang masih menggunakan referensi lama seperti tahun 2005, 2008, bahkan ada yang lebih tua lagi. Ini membuat penelitian terlihat kurang relevan dan tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
5. Artikel Kurang Mendalam dan Analisis Tidak Kuat
Beberapa artikel punya hasil data yang bagus, tetapi pembahasannya kurang dalam. Padahal bagian pembahasan adalah tempat peneliti menunjukkan pemahaman kritis terhadap data, teori, dan penelitian sebelumnya.
Artikel yang pembahasannya dangkal cenderung terlihat seperti laporan tugas akhir, bukan karya ilmiah yang siap masuk jurnal bereputasi.
6. Pemilihan Jurnal Tidak Tepat
Banyak dosen mengirim artikel ke jurnal secara acak tanpa membaca ruang lingkup jurnal tersebut. Setiap jurnal punya fokus tertentu dan tidak semua artikel cocok dengan tema yang ditetapkan.
Misalnya:
- Mengirim artikel pendidikan ke jurnal sains murni
- Mengirim penelitian lokal ke jurnal internasional yang fokus global
- Mengirim artikel kuantitatif ke jurnal yang lebih suka penelitian kualitatif
Kecocokan topik adalah salah satu syarat utama supaya artikel dipertimbangkan editor.
7. Bahasa yang Digunakan Tidak Efektif
Penulisan ilmiah membutuhkan bahasa yang jelas, padat, dan formal. Sayangnya, banyak artikel berbahasa bertele-tele, terlalu naratif, atau terlalu banyak kesalahan grammar, terutama pada artikel berbahasa Inggris.
Beberapa jurnal internasional bahkan menolak artikel hanya karena masalah bahasa. Maka tak heran banyak penulis memakai jasa proofreading atau language editing sebelum mengirim artikel.
8. Kurang Maksimal dalam Menyusun Abstrak
Abstrak adalah bagian pertama yang dibaca editor dan reviewer. Bahkan sering menjadi penentu apakah artikel layak diproses lebih lanjut atau tidak.
Banyak abstrak yang terlalu umum, tidak memberi gambaran jelas tentang tujuan, metode, hasil, dan kontribusi penelitian. Padahal abstrak yang kuat bisa meningkatkan peluang proses review berlanjut.
9. Data Tidak Konsisten atau Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan
Salah satu hal yang sangat diperhatikan jurnal bereputasi adalah integritas data. Kalau data tidak konsisten, terlalu sedikit, atau terlihat “dipaksakan”, artikel bisa langsung ditolak.
Transparansi data juga menjadi perhatian besar pada banyak jurnal modern. Editor ingin memastikan penelitian dilakukan secara etis dan sesuai standar akademik.
10. Terlalu Cepat Mengirim Tanpa Revisi Internal
Beberapa dosen langsung mengirim artikel setelah selesai menulis tanpa melewati proses pemeriksaan internal. Padahal proses pre-review atau pengecekan oleh rekan sejawat bisa membantu menemukan kesalahan kecil yang mungkin terlewat.
Kesabaran dalam menyempurnakan artikel justru menjadi kunci keberhasilan publikasi ilmiah.
Tag:dosen gagal publikasi, faktor penolakan jurnal bereputasi, jurnal bereputasi scopus, kendala menulis artikel jurnal, kualitas penelitian dosen, masalah metodologi penelitian, mengapa dosen sulit publikasi, strategi menembus jurnal Q1, tantangan publikasi ilmiah, tips publikasi jurnal internasional

