Langkah Jitu Dosen Pemula Agar Artikel Cepat Lolos Review Jurnal

Banyak dosen pemula sering merasa cemas saat mengirim artikel ke jurnal. Rasanya seperti mengirim tugas ke dosen paling killer yang tidak pernah tersenyum. Padahal, proses review jurnal ilmiah sebenarnya bisa dijalani dengan lebih tenang kalau sudah paham langkah-langkahnya. Artikel ini membahas cara-cara yang sering dipakai penulis berpengalaman agar naskah lebih cepat lolos review, tanpa drama dan tanpa terlalu banyak revisi.
1. Tentukan Topik Riset yang Relevan dan Sedang Dibutuhkan
Salah satu kunci utama agar artikel cepat diterima adalah memilih topik yang sedang hangat, relevan, dan punya kontribusi nyata. Banyak jurnal, apalagi yang terindeks SINTA, Scopus, atau jurnal nasional terakreditasi, lebih suka naskah yang punya nilai kebaruan.
Misalnya, penelitian tentang pembelajaran digital, kecerdasan buatan, keberlanjutan lingkungan, atau inovasi pengajaran yang sedang ramai dibahas. Dengan memilih topik yang sesuai kebutuhan editorial jurnal, peluang diterima jadi lebih besar.
2. Pilih Jurnal yang Tepat dan Sesuai Bidang Ilmu
Kebanyakan penolakan terjadi bukan karena isi artikel kurang bagus, tapi karena tidak sesuai fokus dan scope jurnal. Sangat penting membaca halaman Aim and Scope sebelum mengirimkan artikel.
Gunakan juga beberapa trik seperti:
- Membaca artikel terbaru dari jurnal tersebut untuk mengetahui gaya penulisan.
- Mengecek apakah jurnal menerima metode penelitian yang digunakan.
- Mengecek frekuensi publikasi agar tahu seberapa cepat proses review-nya.
Kalau jurnal fokus pada pendidikan, jangan memaksa memasukkan artikel tentang ekonomi murni. Begitu juga sebaliknya.
3. Ikuti Template Jurnal dengan Sangat Teliti
Bagian ini sering dianggap sepele, padahal editor jurnal bisa langsung menolak naskah hanya karena format tidak sesuai template. Template biasanya berisi aturan layout, gaya sitasi, ukuran font, struktur artikel, hingga cara menulis tabel dan gambar.
Pastikan naskah mengikuti:
- Format penulisan sitasi (APA, IEEE, Chicago, atau sesuai jurnal).
- Struktur IMRAD (Introduction, Method, Result, Discussion).
- Penempatan tabel dan gambar sesuai ketentuan.
Hal sepele seperti margin dan spasi juga bisa menentukan apakah editor mau melanjutkan ke tahap review atau tidak.
4. Tulis Latar Belakang yang Kuat dan Menarik
Bagian latar belakang adalah “wajah” artikel. Reviewer sering menilai kualitas naskah dari paragraf-paragraf awal. Buat alur yang mengalir, jangan lompat-lompat, dan sertakan masalah yang benar-benar penting.
Gunakan referensi yang kuat, terbaru, dan relevan. Referensi dari jurnal bereputasi akan membuat artikel terlihat lebih meyakinkan.
5. Gunakan Metodologi yang Jelas dan Dapat Direplikasi
Reviewer sangat memperhatikan bagian metode. Penelitian harus bisa direplikasi dan dipahami dengan mudah. Jelaskan jenis penelitian, subjek, instrumen, teknik analisis data, dan langkah-langkah penelitian secara runtut.
Untuk penelitian kuantitatif, pastikan analisis statistik dituliskan dengan benar. Untuk penelitian kualitatif, sertakan teknik validasi data seperti triangulasi.
6. Sajikan Hasil dan Pembahasan yang Padat dan Bermakna
Bagian ini sering dianggap paling krusial. Hasil penelitian harus disampaikan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan, dan tidak dibuat terlalu singkat. Bila ada tabel, grafik, atau diagram, buat yang mudah dibaca dan tidak berlebihan.
Pada bagian pembahasan, kaitkan hasil penelitian dengan teori atau penelitian sebelumnya. Pembahasan yang baik akan menunjukkan apakah penelitian punya kontribusi nyata dalam bidang ilmu tertentu.
7. Perhatikan Penggunaan Bahasa Ilmiah yang Rapi
Bahasa akademik tidak harus kaku, tapi tetap harus jelas dan tidak ambigu. Hindari kalimat bertele-tele, istilah tidak penting, atau bahasa yang terlalu rumit.
Gunakan kalimat efektif, alur logis, dan hindari kesalahan ejaan. Banyak penulis senior melakukan proofreading beberapa kali sebelum mengirimkan naskah.
8. Gunakan Tools Pendukung untuk Memastikan Kualitas Naskah
Saat ini banyak alat yang membantu memperkuat artikel, seperti:
- Turnitin untuk mengecek tingkat kemiripan atau plagiarisme.
- Mendeley atau Zotero untuk manajemen sitasi.
- Grammarly atau alat pemeriksa tata bahasa lainnya.
Naskah dengan tingkat plagiarisme rendah, sitasi rapi, dan kalimat tertata akan jauh lebih mudah lolos reviewer.
9. Sertakan Referensi Terkini dan Relevan
Jurnal sangat menyukai artikel yang menggunakan referensi baru, terutama 5 tahun terakhir. Referensi lama tetap bisa dipakai, tapi jangan terlalu mendominasi.
Usahakan juga banyak mengutip dari jurnal terindeks SINTA, Scopus, atau Web of Science. Semakin kuat referensi, semakin tinggi peluang naskah diterima.
10. Kirim ke Jurnal dengan Sikap Siap Revisi
Hampir semua artikel yang akhirnya diterbitkan pasti melalui proses revisi. Reviewer biasanya memberikan masukan terkait substansi, teknis, atau bahasa.
Jangan kaget kalau revisinya panjang atau terkesan “galak”. Itu hal biasa di dunia akademik. Respon yang baik terhadap komentar reviewer bisa mempercepat proses penerbitan.
11. Jangan Takut dengan Proses Review
Banyak dosen pemula merasa takut karena membayangkan reviewer itu seperti sosok misterius yang suka mencari kesalahan. Padahal, reviewer sebenarnya membantu meningkatkan kualitas artikel.
Semakin sering mengirim artikel, semakin terbiasa dengan masukan reviewer. Rasa cemas itu akan hilang sendiri seiring pengalaman bertambah.
12. Perkuat Jaringan Riset dan Kolaborasi
Kolaborasi dengan rekan dosen, peneliti senior, atau mahasiswa bisa memperkuat artikel. Semakin banyak perspektif, semakin matang hasil penelitiannya.
Selain itu, kolaborasi juga membantu dalam memperluas akses informasi, metode, dan literatur terbaru yang relevan.

